Etika Bermedia Sosial Dan Perlunya Literasi Media Baru

Memang, sekali lagi kontrol pada konten dapat dilakukan, namun jika bisa dimulai dari diri sendiri, hal ini tentu akan jauh lebih best yang menyenangkan untuk orang banyak. Meskipun jumlah ‘terlalu banyak’ juga sangat relatif, setidaknya Anda pasti mengetahui ketika Anda sudah mengunggah terlalu banyak konten pada satu waktu tertentu. Pentingnya mengambil waktu untuk kembali memusatkan pikiran bahkan lebih penting dari meng-update kehidupan sosial bergantung pada konektivitas.

Kamu bisa bercakap-cakap atau chatting dengan orang nun jauh di negara lain hanya lewat aplikasi sosmed. Era teknologi web tak bisa lagi dipisahkan dari rutinitas sehari-hari masyarakat saat ini. Layanan tersebut memudahkan orang untuk mengakses informasi apapun, begitu praktis dan cepat. Sebagai pelengkap gaya hidup fashionable, media sosial tentunya mengubah hidup manusia dalam keseharian, dalam bentuk positif maupun negatif. Penggunaan media sosial memberikan dampak yang sangat positif terutama dalam melakukan interaksi baik secara sosial, politik maupun ekonomi. Penggunaan media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, baik teman, keluarga yang tidak memungkinkan dilakukan melalui head to head karena faktor jarak.

Salah satunya berkomunikasi dengan Dewan Pers untuk mengevaluasi media online yang tidak mengikuti standar dan kaidah jurnalistik. JAKARTA – Pemerintah menginginkan media sosial dimanfaatkan untuk hal-hal yang produktif, mendorong kreativitas dan inovasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Kedua, melakukan literasi digital dengan membuat kegiatan Generasi Positif Thinking dan Siberkreasi yang diisi oleh 86 komunitas serta menggandeng beberapa lembaga agama, perguruan tinggi, badan pembinaan Pancasila dan tokoh masyarakat,” ujar Niken. Guna menekan penyebaran konten negatif di web, Niken menjelaskan berbagai upaya yang telah dilakukan kementeriannya.

Negara dan bangsa memerlukan Manusia Indonesia yang mencerminkan pandangan, sikap, dan perilaku warga Republik Indonesia (siapapun dia, dari kelompok mana pun – etnik, kelas sosial, agama, pendidikan, kemampuan ekonomi). Era globalisasi yang semakin terasa denyutnya memerlukan penampilan Manusia Indonesia yang berkualitas tinggi, sehingga dapat mengikuti perkembangan dunia, yang selanjutnya akan dapat menghasilkan peran serta aktif di berbagai bidang . Suasana pembangunan yang lebih terfokus di bidang ekonomi ditingkah dengan period globalisasi telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. [newline]Tawaran untuk menikmati gaya hidup international Tembak Ikan Terpercaya telah mendorong semua orang untuk sibuk mencari uang, dengan berbagai cara. Mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk meraih yang terbaik demi gaya hidup global. Tentu saja kondisi ini berpengaruh terhadap kehidupan kekeluargaan, yang menjadi kurang terbina. Mulailah terjadi kerenggangan antara suami istri, orang tua dan anak, yang tentunya sukar untuk diharapkan sebagai tempat persemaian tumbuh kembang anak secara optimal.

“Intinya perlu dikembangkan pemanfaatan media sosial seoptimal mungkin untuk mempengaruhi perilaku manusia Indonesia agar lebih kompetitif, mandiri dan bisa menjaga diri dari pengaruh-pengaruh negatif”, ujar Sarlito Wirawan Sarwono dalam paparannya. Semakin sibuk seseorang menghabiskan waktu di kegiatan lainnya seperti berolahraga, kumpul bersama keluarga atau teman-teman, maka semakin tak ada waktu untuk terpaku pada media sosial. Hal tersebut akan efektif untuk mengurangi intensitas berselancar di media sosial. Hal ini bisa dilakukan dengan menggunakan alarm atau stopwatch untuk mengontrol penggunaan media sosial setiap harinya. Menurut para ahli, ketika seseorang sudah terbiasa membatasi waktu yang digunakan di media sosial, akan membuat kita bisa mengatur diri sendiri untuk tidak ketergantungan terhadap platform tersebut. Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan pengguna internet di Indonesia sampai tahun 2017 mencapai sixty three juta orang.

Sosialmedia bisa menjadi hal buruk bagi manusia

Hal ini berarti bahwa agama semestinya menjadi faktor integratif dan bukan sebaliknya sebagai faktor disintegratif bangsa. Dengan fungsi ini nilai-nilai agama dan Pancasila menjadi modal sosial bagi harmoni dan integrasi bangsa. Dan untuk mewujudkan fungsi ini, diperlukan pemahaman keagamaan yang moderat dengan memperhatikan kondisi obyek masyarakat Indonesia yang multi-etnik, multi-agama dan multi-kultural. Pemahaman semacam ini akan menjelma menjadi sikap keberagamaan yang moderat dan toleran terhadap kemajemukan,bukan sikap keberagamaan yang berwatak absolutis dan radikal. Sebagai konsekuensinya adalah adanya upaya-upaya counter radikalisme, baik melalui pendekatan keamanaan dan hukum maupun pendekatan agama . Pendekatan keamanan atau hukum saja tidak cukup, terutama bagi radikalisme ideologis, karena para pelakunya justru merasa bangga dikenakan hukuman dan menganggap diri mereka sebagai pahlawan.

Sebagai rangkaian upaya yang terstruktur, upaya pada tataran operasional akan bersifat praktis implementatif. Pelibatan lembaga-lembaga tersebut untuk menghasilkan peraturan perundangan yang memperkuat upaya-upaya revitalisasi Pancasila secara demokratis dan bermartabat. Upaya yang bersifat praktis ditujukan untuk mendukung upaya-upaya politis melalui kegiatan-kegiatan seperti pendidikan, penyuluhan dan training of coach tenaga penyuluh dengan melibatkan peran aktif para pemangku kepentingan. Sedangkan upaya yang bersifat operasional dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Hal ini dilakukan mengingat lembaga pendidikan merupakan ujung tombak yang efektif pembentukan watak dan karakter bangsa, khususnya generasi muda. Dalam tataran operasional, satu hal penting dan mendasar yang perlu dikembangkan adalah teladan secara nyata.